Under Cover

Pengakuan Avrio Alonso: Rinita Bantah Deal Dengan Maersk Line

DR Berita
Foto: Istimewa

Avrio Alonso ditemui wartawan saat keluar dari Kantor Otoritas Pelabuhan Belawan.

DRberita.com | Dugaan manipulasi data dan pencatutan nama Totok Budi Istiarso Wadoyo, mantan Kepala PT. Pelayaran Bintang Putih (PBP) Cabang Medan, anak perusahaan dari Maersk Line, semakin terkuak. Ada pengakuan sudah terjadi deal antara Maersk Line dengan mantan pengacara Totok.


Diel tersebut disampaikan Avrio Alonao dari pihak Maersk Line kepada Otoritas Pelabuhan Belawan pada Rabu 23 September 2020.



Hal ini diketahui dari Rita Wahyuni SH dan Rekan, pengacara Totok Budi Istiarso Wadoyo, yang menggantikan Rinita Gustiyanti SH, setelah bertemu dengan pihak Otoritas Pelabuhan Belawan yang sebelumnya telah memanggil Avrio Alonso.


Baca Juga :Setukpa Lemdiklat Polri Gelar Pekan Ceramah Bagi Siswa SIP


Rinita Gustiyanti SH saat dikonfirmasi membantah sudah ada deal antara dirinya dengan pihak Maersk Line seperti pengakuan yang disampaikan Avrio Alonso kepada pihak Otoritas Pelabuhan Belawan.


"Saya sebagai kuasa hukum Totok pada saat itu tidak ada diel to deal, namun secara kebetulan kuasa hukum Maersk Line adalah murid dari senior saya, kami tidak ingin berkelahi cuma karna klien kami, jadi kami hanya mencari solusi terbaik," kata Rinita, Kamis 24 September 2020.



"Saya tidak pernah berkoordinasi pada pihak Maeresk Line Medan dan saya tidak kenal yang namanya Avrio Alonso, dia itu siapa," sambungnya.


Apa yang disampaikan pihak Maersk Line melalu Avrio Alonso adalah fitnah yang dituduhkan kepada pihak pengacara Totok Budi Istiarso Wardoyo.


Baca Juga :Polisi Bawa Peti Mati ke Terminal Sambu Medan


Sementara itu, Kepala Maersk Line Area Batam - Medan, Avrio Alonso yang ditemui saat keluar dari Kantor Otoritas Pelabuhan Belawan hanya terdiam.



Terpisah, Rita Wahyuni SH selaku kuasa hukum Totok Budi Istiarso Wardoyo, sekarang ini sudah bisa memastikan kebohongan dan manipulasi data yang terjadi seperti ini memang sudah tidak diherankan lagi.


"Jika kami sebagai praktisi hukum saja bisa dioto-otoi (bohongi) pihak Maersk Line, apa lagi sekedar setingkat dinas. Jadi ini benar benar tidak bisa ditoleransi lagi," tegas Rita Wahyuni.




art/drb

Penulis: Muhammad Artam

Editor: Gmbrenk