Under Cover

Mangrove di Paluh 80 Dirambah, KPH Wilayah I Stabat Diminta Bertindak

DR Berita
Poto: Yudha

Perambahan hutan lindung Paluh 80, Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Deliserdang, Sumut.

DRberita.com | Perambahan hutan lindung terus saja terjadi di wilayah Sumatera Utara. Hal ini menjadikan abrasi secara perlahan namun berdampak besar terhadap kelangsungan hidup biota yang ada di sekitarnya.

Seperti yang terjadi di wilayah hutan lindung Paluh 80, Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Deliserdang, Sumut. Perambahan yang dilakukan oknum tak bertanggung jawab ini bukan sekali saja dilakukan.

BACA JUGA:
Jaringan Listrik di Madina dan Tapsel Padam Akibat Longsor

Padahal, beberapa kelompok tani hutan yang ada di sana terus saja melakukan reboisasi terhadap tanaman mangrove yang jenisnya semakin langka.

Perambahan hutan mangrove ini ditemukan oleh warga yang hendak mencari kepiting. Saat memasang bubu (jaring), mereka melihat ada pohon bakau ditebang dengan ukuran panjang yang sama.


Apa lagi di hutan lindung Paluh 80, spesis bakau api api sudah termasuk langka di dunia. Ini seharusnya sudah menjadi perhatian ekstra masyarakat yang tinggal di daerah tersebut, dan juga KPH Wilayah I Stabat.

BACA JUGA:
Hutang BUMN Membengkak, Aktivis 98 Sebut Erick Thohir Sibuk Pencitraan

Jika perambahan mangrove ini terus dibiarkan akan menimbulkan dampak buruk. Masyarakat tak lagi bisa berburu kepiting sebagai mata pencarian. Yang pada akhirnya akan merusak ekosistem yang lain.

Untuk itu, temuan ini harus disikapi dan ditindaklanjuti Kesatuan Pengelola Hutan Wilayah I Stabat. Mengingat, akan kurang responnya masyarakat terhadap pentingnya tanaman bakau sebagai pelindung dan pertahanan tepi pantai.

Penulis: Yudha EL

Editor: Admin