Suara Anda

Sakhyan Asmara: Masalah Gubernur Edy Rahmayadi "Jewer" Choki Aritonang Tidak Perlu diperpanjang

DR Berita
Poto: Istimewa

Pakar Kebijakan Publik Dr. H. Sakhyan Asmara, MSP

DRberita.com | Persoalan Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Edy Rahmayadi yang menjewer pelatih biliar Khairuddin Aritonang alias Choki tidak perlu diperparjang. Sebab peristiwa itu sebenarnya hubungan antara orang tua dengan anak, dan pembina dengan pelaku olahraga, di hadapan para pembina dan pelaku olahraga.


Jadi komunitasnya sangat homogen, ibarat dalam satu keluarga yang sesungguhnya tidak ada keinginan untuk saling menyakiti.

Seperti diberitakan, peristiwa Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi memanggil Pelatih Biliar Khairuddin Aritonang yang sering dipanggil Choki Aritonang kemudian menjewernya dalam acara Pemberian Bonus kepada para pelaku olahraga yang berprestasi pada PON XX Papua di Aula Tengku Rizal Nurdin beberapa waktu lalu, menjadi berita yang sangat viral di berbagai media cetak, media elektronik, media online dan media sosial.

BACA JUGA:
Polda Sumut Buka Posko Pengaduan Korban Kapal Tenggelam di Perairan Malaysia

Berita itu kemudian mendapat respons dari berbagai kalangan, mulai dari aktivis, LSM, praktisi, politisi sampai anggota DPR RI. Pendapat bermunculan dengan naunsa pro-kontra, sehingga menimbulkan kesan seakan-akan peristiwa itu adalah sebuah kejadian luar biasa yang proses penyelesaiannya memerlukan cara-cara khusus sesuai pendapat masing-masing. Ada yang mengatakan Gubernur harus minta maaf, ada yang menyarankan supaya melapor ke polisi, bahkan ada yang mengeleluarkan pernyataan menyesalkan sikap Gubernur Sumatera Utara.

Menurut Pakar Kebijakan Publik Dr. H. Sakhyan Asmara, MSP, sebenarnya peristiwa itu ibarat balon yang bisa dibuat besar jika mau dibuat besar bahkan sampai meletus. Tetapi jika ingin dibuat kecil, maka bisa menjadi kecil dan bahkan justru dapat menjadi alat instrospeksi bagi semua yang hadir di lokasi untuk lebih meningkatkan semangat kebersamaan dan semangat juang guna meningkatkan prestasi olahraga.


Hal itu dikatakan Sakhyan setelah menyimak pernyataan keduanya, baik Gubernur maupun Khairuddin. Gubernur mengatakan hal itu adalah jewer sayang. Tentu saja hal ini biasa dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya atau seorang pembina kepada binaannya. Jadi tidak masalah dan tidak perlu dipermasalahkan. Sementara Khairuddin juga menyatakan bahwa dia bukan diusir, tapi keluar sendiri dari ruangan karena di jewer. Hal ini wajar sebagai manifestasi kemarahaan sesaat karena dimarahi orang tua.


Jadi menurut saya ujar Sakhyan, hal itu adalah persoalan biasa, tidak perlu diperpanjang dan tidak perlu ada yang merasa disakiti. Apalagi jika dilihat dari tradisi kita orang timur, lanjut Sakhyan yang juga Ketua STIKP Medan itu, menjewer adalah sebuah perbuatan yang mempunyai arti berbeda antara tindakan dan pemaknaannya.

BACA JUGA:
Kado Akhir Tahun Partai Demokrat, PTUN Tolak Gugatan Kubu KLB Moeldoko ke Menkumham

Tindakannya adalah menjewer yakni menarik atau memilin telinga, tapi maknanya adalah menegur atau memperingatkan (kepada anak didik atau bawahan). Jadi sebenarnya menjewer itu masuk dalam kategori kiasan sehingga perbuatan menjewer bukan menyakiti atau membuat orang lain sakit hati.

Jadi sebenarnya tidak ada yang perlu dipermasalahkan karena perbuatan menjewer itu bukan bermaksud untuk menyakiti. Oleh sebab hendaknya semua pihak dapat lebih bijaksana dalam memberikan respons terhadap peristiwa menjewer yang dilakukan oleh Gubernur Sumatera Utara terhadap Pelatih Bilayar Choki Aritonang. Hal itu pasti bisa diselesaikan dengan segera tanpa harus diperpanjang.

Penulis: DR Berita

Editor: Admin