Suara Anda

Pencopotan Trisno Sumantri Bukan Akhir Untuk Berbagi

DR Berita
Foto: DRberita

Tower air PDAM Tirtanadi.

DRberita.com | Pencopotan Trisno Sumantri dari jabatan Direktur Utama (Dirut) PDAM Tirtanadi bukan menjadi akhir untuk berbagi. Tetapi menjadi awal adanya kolaborasi antara birokrasi dengan para kroni.

Benar, sejak awal Trisno Sumantri memang tidak diterima di internal PDAM Tirtanadi. Karena Trisno Sumantri dari pihak luar yang masuk di jajaran direksi, apalagi menjadi pimpinan tertinggi. Aksi sikut kana dan sikut kiri pun terjadi antara pendengki untuk mendapatkan perhatian dari Trisno Sumantri.



Mulai dari pengambilan kebijakan sendiri hingga bagi-bagi komisi. Trisno Sumantri pun terbawa arus emosi oleh para pendengki yang akhirnya memberi petaka bagi dirinya sendiri.

Baca Juga:
Menko Polhukam Ngotot Bentuk Tim Pemburu Koruptor


Peraturan Direksi (Perdir) yang memonopoli bahan utama pembersih air PDAM Tirtandi tak dia pahami. Dan inilah salah satu penyebab Trisno Sumantri dicopot dari jabatan direksi. Padahal, perdir pengadaan bahan utama pembersih air atau PAC Liquid sudah terakomodir dengan baik melalui kroni direksi lama kepada kroni direksi baru.

Kolaborasi para kroni itu pun sudah berjalan sesuai kesepakatan. Sebagai pemegang DO tunggal untuk pengadaan PAC Liquid, kroni direksi lama sudah bertemu dengan kroni direksi baru. Ada pun bagi-bagi fee untuk pengadaan bahan pembersih air sudah diel.



Tidak puas dengan PAC Liquid, pengadan lainnya yang ada pun mulai diintip untuk meraup lebih banyak lagi provit. Seperti pengadaan meteran air, pipa dan juga lainnya sebagainya. Trisno Sumantri pun mulai terasa dirinya terjepit. Dia pun mulai mencoba melawan, namun ketahuan.

Perlawanan itu bukan tanpa alasan. Trisno Sumantri tahu diri karena bertanggungjawab atas kredit yang dipinjam untuk biaya suksesi pesta yang telah selesai. Sambil mengambil keuntungan dirinya dan rekanan.

"Panjang ceritanya kalau mau dikisahkan. Tapi ya sudahlah, mungkin sudah ini jalannya untuk dia aman dari masalah. Mungkin ada rahasia di balik ini semua, dia tak sadar sudah jadi proxy di PDAM Tirtanadi," ungkap sumber yang menolak ditulis namanya, Kamis 16 Juli 2020.



Ramai-ramai yang terjadi sepekan sebelum lengsernya Trisno Sumantri dari jabatan Direksi PDAM Tirtanadi juga merupakan bagian dari skenario yang diciptakan. Agar mendapat perhatian dari para dewan pengawas dan juga pemegang saham.

"Ada yang menginginkan dia (Trisno Sumantri) hengkang dari sana (PDAM Tirtanadi), sehingga mereka lah yang berkuasa atas semuanya, baik itu kegiatan yang ada. Makanya diciptakan ribut-ribut kecil seperti itu, istilahnya ya cipta kondisi lah biar gubernur tahu," kata sumber.

Sumber juga mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan yang terjadi selama Trisno Sumantri menjabat Dirut PDAM Tirtanadi, tidak terlepas dari peran dan kepentingan tertentu. Sehingga Gubernur Edy Rahmayadi berani menyebutkan Trisno Sumantri ada raport merah di PDAM Tirtanadi.



"Kalau boleh jujur, sama-sama kita tahu kondisi PDAM Tirtanadi saat ini. Raport merah Trisno Sumantri itu bukan saja keinginan dia pribadi, tetapi ada keinginan yang lain. Saling silang kepentingan antara jajaran direksi juga ikut mewarnai," tutupnya.

Baca Juga: Akan Syutig Agustus, Falcon Pictures Garap Film Cinta Subuh


Sebelaumnya, Gubernur Sumut Edy Rahmayadi mengungkapkan alasan pencopotan Trisno Sumantri karena punya rapor merah sejak memimpin PDAM Tirtanadi. Salah satunya adalah tidak bisa meningkatkan produktivitas air sehingga tidak mampu menutupi kebutuhan air di Sumut, khususnya di Medan.



Selain itu, kata Edy kepada wartawan di Posko Covid-19 Pemprov Sumut, Selasa 30 Juni 2020, komunikasi yang dibangun Trisno Sumantri selama ini kurang baik, sehingga berpengaruh terhadap kinerjanya di PDAM Tirtanadi.


(art/drb)

Penulis: Redaksi

Editor: Gambrenk