Suara Anda

Ngurus Medan Tak Perlu Pake Otak

DR Berita
Foto: Ilustrasi

Kopi tanpa gula

DRberita.com | Warga Kota Medan dalam waktu dekat ini memiliki walikota dan wakil walikota baru. Bobby-Aulia jadi pemimpin lima tahun ke depan di Kota Medan.


Sejumlah persoalan klasik dan tradisional sudah menunggu mereka berdua di gedung balai kota, Jalan Kapten Maulana Lubis, Medan. Mulai pelayanan publik yang mendasar hingga pendapatan asli daerah. Semua persoalan itu bisa mereka urus tak perlu pake otak. Bobby-Aulia cukup membicarakannya sambil minum kopi tanpa gula.



Pertama, masalah pelayanan publik yang mendasar, yaitu Bobby-Aulia harus merubah pola pikir dan kerja staf di tingkat paling bawah, apa itu? Kantor lurah.


BACA JUGA :Soal Layanan Publik, Gubsu Sikapi KPK dan Ombudsman


Di kantor kelurahan, Bobby-Aulia harus merubah kebiasaan staf saat melayani warga yang datang mengurus administrasi. Jangan sampai warga merasa dipersulit. Tempatkan staf yang humanis agar warga yang datang ke kantor lurah merasa nyamanan dan aman tanpa terbebani biaya dari bawah meja.


Karna zaman sudah semakin canggih, Bobby-Aulia harus menempatkan staf millenial yang paham akan informasi teknologi. Jadinya, urusan administrasi lancar dan cepat selesai.



Kedua, infrastruktur kecamatan. Tiap kecamatan, Bobby-Aulia bisa menyiapkan ruang terbuka hijau. Jika tidak ada lahannya, Bobby-Aulia boleh membelinya dengan uang pemerintah dan menjadi aset Pemereintah Kota Medan. Untuk apa ruang terbuka hijau itu? Untuk warga di kecamatan agar bisa berintraksi antarsesamanya. Jadi tidak perlu mereka pergi ke tengah kota mencari ruang terbuka hijau yang jauh dari rumahnya. Jadi, hubungan sosial antarwarga di kecamatan pun semakin kuat dan terasa.


Perintahkan camat dan lurah untuk berkoordinasi dengan pihak keamanan, agar fasilitas umum (Fasum) ruang terbuka hijau di kecamatan tetap terjaga baik, aman, dan tertib. Sederhana kan?



Ketiga, fasilitas pendidikan dan kesehatan. Bobby-Aulia harus melihat perkembangan bisnis pendidikan dan kesehatan pihak swasta. Saat ini di Kota Medan, semakin menjamur sekolah dan rumah sakit swasta yang megah, canggih, modren dan mahal. Fasum pendidikan dan kesehatan milik Pemko Medan pun kalah jauh. Padahal warga Kota Medan, 70% masih berkemampuan menengah ke bawah dalam urusan kedua fasum tersebut.


BACA JUGA :KPK Peringatkan Pemda di Sumut Hindari Korupsi dalam Pelayanan Publik


Lihat saja sekolah atau puskesmas yang berada di tengah kota. Sementara warga yang tinggal di tengah kota semakin sedikit. Jarak tempuh siswa atau warga ke tengah kota pun semakin mahal, khususnya untuk belajar. Pasti siswa membutuhkan biaya yang lebih besar dari orang tuanya.



Bobby-Aulia tidak perlu pusing soal itu, mereka berdua cukup menggunakan APBD untuk meringankan beban warga yang butuh kedua fasum itu. Sekolah di tengah kota bisa dipindahkan ke tengah permukiman penduduk. Puskesmas yang sudah ada, bisa ditingkatkan sarana dan prasarananya agar warga tak perlu ke rumah sakit mewah milik swasta.


Keempat, pasar tardisional dan perpakiran. Kedua sektor ini sudah menjadi masalah klasik yang sampai saat ini belum paripurna penyelesainnya oleh instansi terkait. Bobby-Aulia cukup pake tangan besi.



Kenapa pake tangan besi? karena di dua objek ini banyak preman berbaju warna warni mengais kekayaan pribadi. Maka itu, Bobby-Aulia harus selamatkan PAD dari dua sektor ini. Tak perlu takut, ada aparat hukum yang bisa dirangkul untuk menertibkannya. Jika tak bisa, minta bantuan dari Jakarta. Jika tak bisa juga, Bobby-Aulia bisa segera angkat bendera putih ke warganya.


Kelima, kurangi belanja rutin. Seperti membeli moubiler kantor, kederaan dinas, dan pengasapalan jalan yang tidak mendesak perbaikannya. Karena ini menjadi sasaran empuk oleh staf yang bermental korup. Karena, diketahui setiap tahunnya APBD ada saja belanja langsung yang itu-itu saja dijadikan kegiatan. Anggaran yang dipangkas itu bisa dimaksimalkan untuk fasum utama yaitu pendidikan dan kesehatan.



Soal jalan rusak, drainase penyebab banjir, dan petugas parkir sebagai sektor fasum dan layanan publik, Bobby-Aulia bisa memaksimalkan staf honorer yang ada di instansi terkait. Jadi para honorer tidak duduk-duduk saja kerjanya di kantor, menunggu perintah dari atasan yang mau terima bersih. Semuanya maksimal bekerja untuk pelayanan publik, dan Kota Medan mendapatkan berkahnya.


BACA JUGA :Kasus OTT Walikota Medan Bukti Kinerja Terburuk KPK


Terakhir, keenam. Bobby-Aulia tidak perlu kali mendengarkan ahli. Karena teori terkadang tidak sama hasilnya dengan praktek. Apa lagi para ahli pembisik yang mencari keuntungan pribadi dari APBD. Ini bisa kacau, ahli-ahli ini biasanya datang dari lingkaran investor dengan bermodalkan lidah dan ludah.



Jadi, Bobby-Aulia harus paham dan bersungguh-sungguh dalam bekerja sebagai Walikota dan Wakil Walikota Medan. Agar berkah yang dijanjikan semasa kampenye tercapayai dengan maksimal. Selamat bertugas, jadilah pelayan yang baik bagi warga Kota Medan. Sukses!

Penulis: Redaksi

Editor: admin