Politik

Pemuda Barisan Karo Marah Proyek Jalan Layang Kelok 11 Ditunda

DR Berita
Foto: Istimewa

Jesayas Tarigan, Ketua Umum DPP Pemuda Barisan Karo.

DRberita.com | Ditundanya proyek jalan layang Medan-Berastagi atau disebut kelok 11 oleh Kementerian PUPR membuat marah Pemuda Barisan Karo. Alasan penundaan karena pandemi virus Corona (Covid-19) tidak masuk akal.

Ketua Umum DPP Pemuda Barisan Karo, Jesayas Tarigan mengatakan pemerintah dalam hal ini Kementerian PUPR telah menyakiti hati rakyat di 6 kabupaten/kota di Sumut dan Aceh, yaitu Kabupaten Aceh Taming. Padahal pemerintah sudah menyetujuai pembagun jalan layang tersebut dilakukan pada tahun ini.



"Kami melihat penundaan proyek jembatan layang ini tidak masuk akal dan hanya mencari-cari alasan saja dengan mengatakan anggaran yang sudah ada dialihkan untuk menagani Covid-19," ungkap Jesayas Tarigan dalam keterangan tertulis, Senin 13 Juli 2020.

Menurut Jesayas, diketahui pembagunan infrastruktur di Indonesia Timur tetus berjalan dengan mendatangkan pekerja dari China dan Taiwan tanpa ada alasan Covid-19. Pemuda Barisan Karo jelas sangat kecewa dan kesal dengan kebijakan penundaan yang dibuat oleh pemerintah khususnya Kementerian PUPR ini.

Baca Juga: Polisi Tangkap Artis FTV HH di Hotel Medan Bersama Pria


"Bahwa persoalan perjuangan permohonan semua lintas Organisasi Karo dan masyarakat di 6 kabupaten/kota ditambah satu kabupaten di Provinsi Aceh, seoalah-olah tidak krusial, tidak penting atau urgen. Padahal permohonan jalan layang itu juga untuk kepentingan masyarakat luas dan bukan hanya untuk kepentigan masyarakat Karo saja," tegasnya.



"Ini menyangkut 6 kabupaten/kota dan 1 Provinsi Aceh yang terakses dengan jalan layang tersebut, mengingat kebutuhan dan mobilitas masyarakat semakin tinggi dan tak terkendali," sambungnya.

Selain itu, lanjut Jesayas, pembangunan jalan layang atau kelok 11 yang dimohonkan tersebut juga menyangkut nyawa manusia dan hasil-hasil pertanian. Jika dari ke Kota Medan menuju Berastagi kondisi infrastruktur yang ada saat ini, perjalan normalnya bisa memakan waktu satu setengah atau dua jam.

Namun jika terjadi kenderaan rusak, tabrakan, atau longsor maka bisa dipastikan perjalanan Medan-Berastagi memakan waktu samapai 6 hingga 7 jam.



"Bagaimana dengan saudara kita yang sakit parah dan membutuhkan perwatan cepat, dan bagaimana pula dengan saudara kita yang meninggal dunia serta hasil-hasil pertanian yang dikirim ke Kota Medan dan kabupaten/kota lainya anatar provinsi, tentunya petani bisa mengalami kerugian besar , jadi siapkah yang akan bertanggungjawab untuk itu, tentu ini menjadi pertanyaan yang besar bagi kita," bebernya.

Baca Juga: Bobby Vs Kotak Kosong: Pilkada Medan Mencari Walikota, Bukan Boneka


Tentunya, kata Jasayas, dengan adanya tuntutan dan harapan serta permohonan masyarakat akan pembagunan jalan layang yang sudah dianggarkan dan disetujui ini bisa mengurai kemacetan, jarak tempuh dan mengurangi mobilitas masyarakat yang tinggi dan tak terkendali.



"Kalaupun Pemkab Karo mengupayakan jalan alternatif itu bukan solusi yang tepat dan tidak mengurai persoalan yang krusial selama, sebab banyak hal yang menjadi pertimbagan misalnya jarak tempuh, keamana, kenyaman, lebar jalan, penerangan dan sebagainya. Walaupun demikian, Pemuda Barisan Karo berterimakasih atas upaya pemkab tersebut," tandasnya.


(art/drb)

Penulis: Muhammad Artam

Editor: Gambrenk