Politik

Pasrah Terima Banjir di Medan, Aktivis 98 Usulkan Bobby Nasution Pakai Pawang Hujan

DR Berita
Istimewa

Aktivis Perhimpunan Pergerakan 98 Eky Rauf

DRberita.com | Banjir di Kota Medan, Sumatera Utara, sejak memasuki November 2021, semakin parah. Seperti yang dialami aktivis Perhimpunan Pergerakan 98 Eky Rauf, warga Jalan Puri, Medan Area, Sumatera Utara, yang pasrah menerima banjir menggenangi rumahnya.


Menurut Eky, akibat luapan air hujan yang tak mampu ditampung saluran parit di Jalan Puri, Selasa malam, 23 November 2021, ratusan rumah terendam air setinggi lutut.

Menurut Eky, dia dan warga Jalan Puri mengeluhkan tidak adanya respon Wali Kota Medan Bobby Nasution untuk memerintahkan Dinas Pekerjaan Umum Medan membongkar saluran air di sepanjang Jalan Puri dan jalan lain di Keluruhan Kota Matsum (Komat).

BACA JUGA:
Tanjung Rejo Percut Sei Tuan Jadi Contoh Desa Inovasi

"Kami pasrah dan ikhlas saja menerima kenyataan ini. Setiap hujan 30 menit dengan intensitas sedang saja, jalan dan rumah disini (Jalan Puri) tergenang air banjir luapan parit. Peristiwa ini sudah berulang," kata Eky.

Sejak Walikota Medan dijabat Dzulmi Eldin, sambung Eky, warga Jalan Puri sudah meminta perbaikan saluran air di semua ruas jalan di Kelurahan di Komat tapi tidak dikerjakan.


"Kami minta juga ke Walikota Akhyar Nasution, tidak juga dikerjakan. Kami minta lagi ke Walikota Bobby Nasution juga tidak dikerjakan. Sebagai warga Medan yang baik, kami maklum walikota sedang sangat sibuk," ujar Eky.


Dari pada sibuk saling menyalahkan, ujar Eky, dia mengusulkan Walikota Medan Bobby Nasution memakai jasa pawang hujan memindahkan hujan yang mengancam Medan.

BACA JUGA:
KTH Bhakti Nyata Terima Bantuan dari Balitbang Sumut Untuk Wisata Mangrove

"Karena sepengetahuan kami, Bobby Nasution berulang kali memimpin rapat mengendalikan banjir bersama Dinas Pekerjaan Umum, Badan Wilayah Sungai dan ahli tata kota dan ahli air. Tapi banjir tak teratasi. Jadi lebih baik kami usulkan sewa pawang hujan yang bisa memindahkan hujan ke luar dari Kota Medan," sindir Eky.

Eky mengkritik berbagai kegiatan survei penyebab banjir Medan yang dilakukan sejumlah pihak saat musim kemarau, bukan saat hujan.


"Makanya jadi lucu-lucuan karena survei penyebab banjir dilakukan saat tidak hujan. Bicara mengatasi banjir tidak bisa dilakukan di atas meja, tapi harus ke lapangan saat hujan turun. Bukan sekedar aksi foto dan update status medsos. Ini yang terjadi sehingga banjir tak kunjung teratasi," tandasnya.

Penulis: DR Berita

Editor: Admin