Politik

Longsor di PLTA Batangtoru, AMPI: Pemerintah Wajib Kaji Ulang Izin

DR Berita
Foto: Istimewa

PLTA Batangtoru, Tapsel.

DRberita.com | Di balik insiden kecelakaan kerja yang mengakibatkan alat berat (escavator) dan operatornya terseret ke dasar Sungai Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan, di PLTA Batangtoru, karena longsor, pemerintah pusat wajib mengkaji lokasi tersebut.


Lokasi yang terjadi di titik R26 wilayah kerja PLTA Batang Toru antara Lingkungan I, Kecamatan Batang Toru dan Aek Batang Paya, Kecamatan Sipirok, pemerintah pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan kementerian terkait lainnya wajib mengkaji kembali kondisi lahan yang dijadikan wilayah eksplorasi perusahaan tersebut.



Sekretaris DPD AMPI Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) Khairul Arief, mengatakan, Batang Toru yang melakukan eksplorasi di wilayah Tapsel wajib menyampaikan kepada publik terkait kondisi kawasan wilayah yang sedang dikerjakan, mengingat adanya kejadian longsoran tanah yang mengakibatkan peristiwa luar biasa di sana.


Baca Juga :KAUM Gelar Refresing dan Malam Keakraban di Gedung BPPP


Lanjut, Sekjend AMPI Tapsel, terkait kondisi longsoran tanah yang ada di sana, BNPB dan kementerian terkait wajib mengkaji ulang keberadaan wilayah PLTA di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. "Kita tidak mau ke depan longsoran hebat terjadi lagi sehingga mengakibatkan banyaknya korban jiwa, ini baru satu orang dan alat berat, besok dan seterusnya bagaimana," ucap Arief.


"Masyarakat pada intinya tidak keberatan jika ada investor di Tapanuli Selatan, akan tetapi harus mengutamakan kesehatan, keselamatan hajat hidup orang banyak," sambungnya.



Dalam hal ini, pemerintah daerah juga memiliki peran dengan adanya kejadian ini, jangan sepenuhnya persoalan dibiarkan. "Sejalan visi misi Presiden Joko Widodo, iklim investasi juga harus dirasakan demi masyarakat lingkaran wilayah kerja PLTA tersebut yang meliputi Kecamatan Sipirok, Kecamatan Batang Toru, dan Kecamatan Marancar," tegas Arief.



art/drb

Penulis: Arief

Editor: admin