Politik

Kebijakan PPKM: Yusril Salahkan Tito, Erick Hingga Luhut

DR Berita
Istimewa

Yusril Izha Mahendra


DRberita.com | Kebijakan pemerintah terkait penanganan kasus Covid-19 di Tanah Air menui kritikan. Kebijakan yang berubah-ubah menjadi bermasalah.


Kritikan itu disampaikan Ketua Umum DPP Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra dalam webinar yang digelar IDI, Sabtu 31 Juli 2021 malam.

Baca Juga :Besok, Dewas KPK Sidang Etik Lili Pintauli


Pakar hukum tata negara ini kemudian menyebut beberapa istilah kebijakan yang diterapkan pemerintah dalam menangani pandemi paling mematikan di dunia itu.


Antara lain, PSBB, PPKM Berskala Mikro, PPKM Darurat, hingga PPKM level 3-4.

Baca Juga :Buruh di Wilayah Level 4 dan 3 PPKM Harus Pertanyakan BSU Rp 1Juta ke Perusahaan

"Sudah 1,5 tahun pemerintah menyatakan darurat kesehatan berganti-ganti ya kebijakannya. Orang dan rumusan-rumusan hukum juga tidak selalu jelas," ujar Yusril.


Yusril juga menyebut sejumlah pelanggaran yang terjadi selama ini menimbulkan pertanyaan. "Apakah murni pelanggaran atau ada unsur politik? Ini memberi citra kurang positif kepada pemerintah, karena ada anggapan orang tertentu yang kena, tebang pilih," ucapnya.


Yusril menilai pemerintah penting menemukan rumusan yang tepat dalam penanganan Covid-19, termasuk landasan hukumnya. Apabila salah langkah, korban Covid-19 bisa terus bertambah.

Baca Juga:China Akan Bangun Pangkalan Militer di Indonesia, Ini Kata Anggota DPR RI

"Enggak ada yang menjamin kesehatan kita sekarang. Salah kebijakan bisa mati massal, dan kalau mati massal itu bisa genosida juga karena pembunuhan bersifat massal," katanya.


Yusril menilai landasan hukum pemerintah dalam penanganan Covid-19 masih bermasalah. Dia mencontohkan PPKM level 3-4 yang hanya diatur melalui Instruksi Mendagri.


Begitu pula terlibatnya Menteri BUMN Erick Thohir dan Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan dalam penanganan Covid-19 yang dinilai tak sesuai dengan tugasnya.

Baca Juga :Korea Selatan Akan Terbitkan Paspor Vaksin Sistem Proteksi Blockchain

"Kalau legitimasi dipertanyakan, orang memberi instruksi juga bagimana? Ya, tarik ulur, mundur maju mundur maju," katanya.


Yusril menyatakan, pemerintah perlu merapikan instrumen hukum dalam menangani Covid-19, termasuk melibatkan dokter ketika mengambil kebijakan.


"Dokter orang yang profesional tidak bisa diabaikan. Suara mereka ini harus menjadi pertimbangan utama dalam menangani urusan pandemi," pungkas Yusril.

Penulis: DR Berita

Editor: Admin

Sumber: JPNN