Metropolis

Alasan Pandemi Covid-19, Tagihan Air Bengkak Rp 2 Juta

DR Berita
Foto: Istimewa

Bukti pembayaran air PDAM Tirtanadi.

DRberita.com | PDAM Tirtanadi benar-benar membuat kecewa konsumen. Pasalnya, selain kualitas air yang buruk dan sering mati kali ini konsumen dikejutkan dengan tagihan yang membengkak.


Hal ini dialami Romulo Makarios Sinaga, konsumen yang tinggal di Jalan Flamboyan II No. 182 Perumnas Helvetia Medan, dengan id pelanggan 0216450021 atas nama Bungaran Sinaga, yang menyampaikan kepada wartawan, Selasa 24 November 2020.



Saat akan lakukan pembayaran via aplikasi bayaran online untuk bulan November 2020 tagihan air mencapai Rp 2.011.635. Karena tidak terima tagihan membengkak pada Rabu 18 November 2020, dirinya mendatangi Kantor PDAM Tirtanadi Cabang Sei Agul.


Baca Juga :Kantor Hukum EPZA Ajukan Perundingan Bipartit ke PT. Laut United


Pihak petugas counter pembayaran saat dipertanyakan tagihan yang naik drastis hanya memberikan jawaban bahwa tagihan tersebut karena selama massa Pandemi Covid-19, petugas catat meter tidak melakukan pencatat serta bila mau melakukan komplain diminta membuat surat keberatan kepada Pimpinan PDAM Tirtanadi.


"Jelas kita tidak terima setiap bulan kita hanya membayar 200 ribu hingga 300 ribu rupiah. Dan ini tidak masuk akal tagihan air lebih mahal dari listrik. Kita tahu bagaimana buruknya layanan PDAM Tirtanadi di Perumnas Helvetia, air setiap hari mati dan selalu kami menampung air tengah malam. Bisa kita lihat fakta di lapangan belum lagi persoalan air yang kotor. Dimana logika penghitunganya. PDAM Tirtanadi itu milik Pemprovsu sementara PLN milik negara, tetapi lebih mahal milik daerah kita bayar," ucap Romulo dengan kesalnya.



Akhirnya karena adanya masukkan dari staf PDAM Tirtanadi agar mengajukan keberangkatan melalui rekan sejawatnya wartawan dirinya membuat pengaduan. Pada 20 November Jam 09.30 Wib, pihak Kepala Cabang PDAM Tirtanadi Sei Agul , Taslim menghubungi via ponsel dari No 0852xxx.


"Jawaban beliau hampir sama dengan petugas loket bahwa petugas catat meter tidak melakukan pencatatan dan menyampaikan pihaknya sudah melakukan pemecatan terhadap petugas catat meter. Dan juga dikatakan beliau selama ini sistem catat meter dilakukan secara manual terhadap meteran air milik kita dicatat secara keseluruhan serta sudah sesuai, bila mau dilakukan pembayaran diajukan reduksi katanya jadi tagihan sebesar Rp 700 ribu," ucap Romulo.



Namun, kata Romulo tidak bisa diterima serta berharap adanya kebijakan dari Dirut PDAM Tirtanadi. "Sejak Perumnas Helvetia berdiri almarhum orangtua saya selalu membayar tagihan yang tidak pernah mencapai angka jutaan rupiah. Dan dari dulu dilakukan sistem catat meter itu secara manual atau pakai buku tidak pernah tagihan membengkak nah kenapa pihak PDAM Tirtanadi Cabang Sei Agul kq menyalahkan petugas catat meternya setelah tagihan membengkak. Ini jelas tidak masuk akal logika kita lebih baik saya pakai sumur bor saja toh tagihan listrik tetap akan stabil," ucapnya.


Juga, kata Romulo pihaknya sudah menyampaikan kepada Taslim kalau tadi pihaknya tinggal di kompleks yang elit wajar tagihan tinggi karena sudah sesuai.



"Ini kita tinggal di Perumnas Helvetia bisa dikatakan airnya tiap hari mati dengan pendapatan masyarakat yang sangat pas-pasan.Tapi kenapa tagihan airnya hampir sama dengan tinggal di kompleks elit.Dan saat kita sampaikan persoalan akan kita buat surat keberatan kepada petinggi PDAM Tirtanadi beliau menyampaikan itu hak kita sebagai konsumen," papar Romulo.


Baca Juga :KPK: Terkait Penahanan Bupati Labura, Nimrot Seharusnya Ciptakan Opini yang Mencerahkan


Untuk itulah kata Romulo, kepada petinggi PDAM Tirtanadi Sumatera Utara agar bisa memberikan solusi bagi konsumen. "Selain kepada pihak Dirut PDAM Tirtanadi Sumatera Utara juga kepada Gubernur Sumatera Utara agar bisa melakukan kajian yang bijak dan tepat wilayah mana saja yang bisa dilakukan penyesuaian tarif yang wajar karena ini situasi ekonomi masyarakat sedang terpuruk.Jangan jadikan alasan petugas catat meter yang salah dalam lakukan pencatatan baik manual atau pun tidak dicatat selama pandemi Covid-19.Ini kan tidak masuk akal logika," tutup Romulo yang juga wartawan ini.




art/drb

Editor: admin

Sumber: Rilis