Kerah Putih

Kejatisu Periksa Puluhan Saksi Kasus Kredit Fiktif BTN Medan

DR Berita
Foto: Muhammad Artam

Kantor Kejatisu

DRberita.com | Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) tengah memeriksa puluhan saksi dari kasus dugaan kredit fiktif di PT. Bank Tabungan Negara (BTN) Cabang Medan senilai Rp 39,5 miliar.



Dalam kasus kredit fiktif diagunkan 93 Surat Hak Guna Bangunan (SHGB) yang diajukan Canakya Direktur PT Krisna Agung Yudha Abadi (KAYA) ini sudah memeriksa sejumlah saksi terkait penyaluran dana.


BACA JUGAMarkas Pinjol Bodong Terdeteksi di Cemara Asri

"Saksi-saksi yang diperiksa sudah puluhan orang, baik dari pihak bank maupun debitur dan pihak-pihak terkait," ujar Aspidsus Kejatisu Muhammad Syarifuddin, Senin 7 Juli 2021.



Namun Kejatiasu belum ada menetapkan tersangka karena masih dalam pemeriksaan saksi.



Selain pemeriksaan saksi, Kejatisu juga sedang mengumpulkan bukti-bukti untuk menghitung jumlah kerugian negara yang dihasilkan dari kasus kredit fiktif ini.


"Nilai kredit yang dikucurkan ke Canakya Suman senilai Rp 39,5 miliar. Tapi berapa nilai kerugian BTN masih akan dihitung nanti," jelasnya.


Kasus dugaan korupsi kredit fiktif Rp 39,5 miliar ini bermula pada tahun 2014, bahwa Canakya mengajukan kredit pinjaman kepada PT. Bank Tabungan Negara (BTN) Cabang Medan dengan nilai sebesar Rp 39,5 miliar dengan jaminan sejumlah 93 buah Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) atas nama PT. Agung Cemara Realty.


Dalam kasus ini, saksi Mujianto memberikan kuasa kepada Canakya Suman di Kantor Notaris Elvira untuk menjual 93 SHGB dan berdasarkan hal tersebut, Canakya Suman mendapat pinjaman kredit Rp 39,5 miliar.


Proses pengajuan kredit pun dibantu oleh seseorang bernama Dayan Sutomo yang mengenalkan Canakya kepada Ferry Sonefille selaku Kepala Kantor Cabang BTN Medan, dan menjadi penghubung ke pejabat bagian kredit BTN Cabang Medan.


BACA JUGAAVROS di Sumatera Timur, Dan Kekejaman Tuan Kebun

Dari hasil kerja yang dilakukan Dayan ke pejabat bagian PT. BTN Cabang Medan, Dayan diduga mendapatkan sukses fee Rp 2 miliar dan untuk berbagi dengan orang dalam bank.



Sebelumnya, pengajuan 93 SHGB yang diagunkan hanya 58 SHGB telah dilakukan pembuatan Akta Pembebanan Hak Tanggungan (APHT). Sedangkan 35 SHGB diketahui belum dilakukan APHT.


Pada bulan Juni 2016 sampai dengan Maret 2019, Canakya mengalihkan dan atau menjual ke 35 sertifikat tersebut kepada orang lain tanpa seizin dari pihak PT Bank Tabungan Negara Cabang Medan.

Penulis: DR Berita

Editor: admin