Aksi Massa

Mahasiswa ITM Demo Tolak Dua Kubu Rektor

DR Berita
Foto: DRberita

Mahasiswa ITM demo depan kampus menolak dua kubu rektor.

DRberita.com | Ratusan mahasiswa Institut Teknologi Medan (ITM) berunjuk rasa menolak dua kubu rektor hasil pemilihan dan pelaksanatugas rektor. Unjuk rasa dilakukan dengan membakar ban bekas dan memblokir pintu masuk Kampus ITM Jalan Gedung Arca Medan, Jumat 10 Juli 2020.

Pantauan DRberita, mahasiswa mulai berorasi sekitar pukul 14.00 WIB usai sholat jumat. "Kampus ini kami tutup dan blokade sampai kedua kubu rektor islah dan berdamai." kata salah satu pengunjuk rasa.


Sehari sebelumnya, Kantor Yayasan dan Kantor Rektorat dikuasai mahasiswa dengan cara bermalam dan tidur di kedua ruangan tersebut.

Pasca dibuka paksa dan dikuasainya kedua ruangan baik Kantor Yayasan Dwi Warna maupun gedung rektorat oleh mahasiswa yang mengatasnamakan diri mereka dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Institut Teknologi Medan (KAM-ITM), puluhan mahasiswa aksi akhirnya bermalam dan tidur di kedua ruangan tersebut.

Aksi bermalam di kedua ruangan itu mereka lakukan agar kedua ruangan tetap dapat dikuasai mahasiswa bahkan dapat steril dari seluruh aktifitas yayasan maupun rektorat sampai konflik dualisme kepemimpinan yang sedang terjadi terselesaikan.


"Kedua kubu rektor tidak kami akui, Kuswandi dan Ramlan Tambunan," ujar mahasiswa.

Baca Juga:
Beredar Potongan Surat KPK Jadwalkan Periksa Bupati Labura dan 3 Orang Sebagai Tersangka

Mereka juga mengatakan bahwa hari ini mereka akan melakukan aksi yang lebih besar dan mereka tetap mendesak para petinggi yayasan dan rektorat segera menyelesaikan masalah yang terjadi ditingkatan internal mereka.

"Sebab hanya mereka yang mampu menyelesaikan masalah mereka, bila perlu minta alumni yang berpengaruh ikut menyelesaikan," ujar mahasiwa.

Wakil Ketua Perhimpunan Alumni ITM Sahat Simatupang mengaku kaget atas dualisme rektor ITM.


Menurut Sahat, sekitar Februari lalu, pengurus PA ITM bertemu rektor Mahrizal Masri dalam rangka silaturahmi." Saat itu tidak ada kabar akan ada pemilihan rektor ITM." ujar alumni Teknik Geologi 93 itu.

Baca Juga: Seluruh Puskesmas di Batubara Gotong-royong Terapkan Kenormalan Baru

Sahat berharap, kedua kelompok pendukung rektor berunding agar proses belajar dan mengajar di ITM dapat berjalan normal.


"Sebagai alumni saya mengingatkan agar konflik kecil itu segera diselesaikan. Pengalaman kita menyaksikan konflik di kampus lain, jika kampus terbagi dalam perkubuan, sangat sulit dan perlu waktu lama agar kembali bersatu. Mumpung belum ada pihak yang ingin mengail di air keruh, sebaiknya kedua kubu rektor saling menahan diri dan mencari titik temu," ujar jurnalis senior Tempo ini.


(art/drb)

Penulis: Muhammad Artam

Editor: Bornok